Memaknai Ulang Gotong Royong di Era Modern

Oleh: Maal Abrar, S.I.Kom., M.I.Kom

BELAKANGAN ini semangat gotong royong kembali banyak dikampanyekan, mulai dari pemerintah pusat hingga pemerintah daerah. Ajakan untuk saling membantu, memperkuat solidaritas sosial, dan membangun kepedulian bersama kembali menggema di berbagai ruang publik.

Hal ini tentu bukan tanpa alasan. Sejak awal berdirinya bangsa ini, gotong royong telah menjadi salah satu fondasi utama kehidupan masyarakat Indonesia. Bahkan Bung Karno pernah menyebut bahwa jika Pancasila diperas menjadi satu kata, maka kata itu adalah “gotong royong”. Artinya, Indonesia tidak dibangun oleh satu orang, satu kelompok, atau satu golongan, melainkan oleh kebersamaan seluruh anak bangsa.

Namun seiring perkembangan zaman, tidak sedikit yang beranggapan bahwa semangat gotong royong mulai memudar. Masyarakat dinilai semakin individualis, lebih fokus pada kepentingan pribadi, dan cenderung mengukur segala sesuatu berdasarkan keuntungan yang diperoleh.

Saya sependapat bahwa semangat gotong royong di beberapa tempat memang mulai berkurang. Namun saya tidak sependapat jika dikatakan gotong royong telah hilang.

Menurut saya, gotong royong tidak pernah benar-benar hilang. Yang berubah hanyalah bentuk dan cara kita memaknainya.

Sebab pada hakikatnya manusia adalah makhluk sosial. Tidak ada satu pun manusia yang mampu menjalani kehidupan sepenuhnya sendirian.

Hari ini mungkin ada seseorang yang berkata, “Ini usaha saya, saya membangunnya sendiri.” Pernyataan itu tidak salah. Tetapi mari kita renungkan sejenak.

Benarkah kita benar-benar sendiri?

Ketika kita berangkat bekerja dengan aman, ada aparat keamanan yang menjaga ketertiban. Ketika kita melewati jalan yang baik, ada pekerja dan pemerintah yang membangunnya. Ketika kita menyalakan lampu di rumah, ada banyak orang yang bekerja memastikan listrik tersedia. Ketika kita sakit, ada tenaga kesehatan yang siap membantu. Ketika kita menuntut ilmu, ada guru yang mengajar dengan sabar. Ketika kita menjalankan usaha, ada pelanggan yang percaya kepada kita.

Bahkan ketika kita merasa berhasil hari ini, sering kali ada doa-doa yang tidak pernah kita dengar tetapi dipanjatkan oleh orang-orang yang menyayangi kita.

Bukankah itu juga bentuk gotong royong?

Mungkin bukan gotong royong dalam bentuk mengangkat rumah bersama-sama seperti dahulu. Mungkin bukan lagi kerja bakti massal setiap minggu sebagaimana yang sering kita lihat di masa lalu.

Namun esensinya tetap sama, yaitu saling mendukung agar kehidupan berjalan lebih baik.

Saya teringat masa sekolah dahulu. Tidak semua perjalanan saya menuju sekolah dilakukan dengan kendaraan milik keluarga sendiri. Ada tetangga yang dengan sukarela memberikan tumpangan. Ada teman yang meminjamkan buku. Ada guru yang memberikan motivasi ketika semangat belajar menurun.

Bahkan dalam perjalanan hidup, tidak sedikit orang yang pernah membantu kita ketika mengalami kesulitan ekonomi. Ada yang meminjamkan uang, ada yang memberikan pekerjaan, ada yang membuka peluang, dan ada yang sekadar memberikan semangat ketika kita hampir menyerah.

Mungkin bantuan itu terlihat kecil.
Namun sering kali hal-hal kecil itulah yang menjadi alasan seseorang mampu bertahan dan melangkah lebih jauh. Karena itu, menurut saya gotong royong perlu dimaknai ulang sesuai perkembangan zaman.

Gotong royong tidak harus selalu berbentuk tenaga. Tidak harus selalu berbentuk uang. Tidak harus selalu berbentuk kegiatan besar. Hari ini, gotong royong bisa berupa berbagi ilmu kepada orang lain.

Bisa berupa membantu mempromosikan usaha kecil milik tetangga. Bisa berupa memberikan informasi pekerjaan kepada yang membutuhkan. Bisa berupa mendengarkan keluh kesah seseorang yang sedang menghadapi masalah. Bisa berupa menjaga lingkungan agar tetap bersih. Bisa berupa membayar pajak dengan benar. Bahkan bisa berupa doa tulus yang dipanjatkan untuk kebaikan sesama.

Jika kita melihat lebih dalam, sesungguhnya hampir setiap hari kita sedang bergotong royong.

Petani bergotong royong dengan pedagang. Pedagang bergotong royong dengan pembeli. Guru bergotong royong dengan orang tua. Pemerintah bergotong royong dengan masyarakat. Pengusaha bergotong royong dengan pekerja. Dan masyarakat bergotong royong dengan lingkungan tempat mereka hidup.

Perbedaannya hanya satu, kita sering kali tidak menyadarinya. Padahal kesadaran itulah yang perlu dibangun kembali.

Ketika seseorang menyadari bahwa keberhasilannya hari ini tidak sepenuhnya hasil jerih payahnya sendiri, maka akan tumbuh rasa syukur. Ketika rasa syukur tumbuh, akan muncul keinginan untuk membantu orang lain. Dan ketika semakin banyak orang yang memiliki keinginan membantu sesama, maka semangat gotong royong akan hidup dengan sendirinya.

Bangsa ini tidak kekurangan orang pintar. Bangsa ini juga tidak kekurangan orang yang bekerja keras. Yang terkadang mulai berkurang adalah kesadaran bahwa kita saling membutuhkan.

Karena itu, mari kita hidupkan kembali semangat gotong royong, dimulai dari diri sendiri. Tidak perlu menunggu menjadi orang kaya. Tidak perlu menunggu memiliki jabatan. Tidak perlu menunggu menjadi tokoh besar.

Mulailah dari hal-hal sederhana yang mampu kita lakukan hari ini. Sebab mungkin keberhasilan yang kita nikmati saat ini adalah hasil dari gotong royong banyak orang yang tidak pernah kita sadari.

Dan siapa tahu, bantuan kecil yang kita berikan hari ini akan menjadi alasan bagi orang lain untuk tetap memiliki harapan esok hari. Karena selama masih ada manusia yang peduli terhadap sesamanya, gotong royong tidak akan pernah hilang.
Ia hanya menunggu untuk dimaknai kembali sesuai zamannya. (*)

Penulis: Dosen Fisip Universitas Persada Bunda Indonesia (UPBI) dan Pengamat Kebijakan Publik.