Oleh: Maal Abrar, S.I.Kom., M.I.Kom
DI tengah berbagai persoalan bangsa yang silih berganti memenuhi ruang publik mulai dari politik, ekonomi, hukum, lingkungan hidup, hingga konflik sosial, sering kali kita terjebak pada pembahasan gejala tanpa menyentuh akar persoalannya. Kita sibuk memperdebatkan akibat, tetapi lupa membicarakan penyebab.
Padahal jika ditarik lebih jauh, hampir seluruh persoalan tersebut bermuara pada satu hal yang sama: manusia.
Politik dijalankan oleh manusia.
Ekonomi digerakkan oleh manusia.
Hukum ditegakkan oleh manusia.
Teknologi diciptakan oleh manusia.
Bahkan kerusakan maupun kemajuan sebuah bangsa pada akhirnya ditentukan oleh kualitas manusia yang dimilikinya.
Karena itu, ketika berbicara tentang pembangunan peradaban yang berkelanjutan, sesungguhnya kita sedang berbicara tentang pembangunan sumber daya manusia. Dan ketika berbicara tentang sumber daya manusia, pendidikan menjadi fondasi yang tidak dapat diabaikan.
Indonesia sesungguhnya telah memiliki warisan pemikiran pendidikan yang sangat maju melalui gagasan Ki Hajar Dewantara. Bapak Pendidikan Nasional tersebut mendefinisikan pendidikan sebagai upaya menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak agar mereka mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya, baik sebagai manusia maupun anggota masyarakat.
Pemikiran tersebut melahirkan filosofi pendidikan yang hingga kini masih relevan.
Ing Ngarsa Sung Tuladha, di depan memberi teladan.
Ing Madya Mangun Karsa, di tengah membangun semangat.
Tut Wuri Handayani, di belakang memberi dorongan.
Selain itu, Ki Hajar Dewantara juga memperkenalkan konsep Tri Pusat Pendidikan, yaitu keluarga, sekolah, dan masyarakat sebagai satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dalam proses pembentukan manusia.
Masalahnya, dalam praktik sehari-hari ketiga unsur tersebut sering berjalan sendiri-sendiri. Ketika anak mengalami masalah pendidikan, orang tua menyalahkan sekolah.
Sekolah menyalahkan keterbatasan anggaran, kurikulum, atau lingkungan keluarga. Guru mengeluhkan beban administrasi dan kesejahteraan.
Pemerintah berhadapan dengan keterbatasan anggaran dan luasnya wilayah pelayanan. Sementara dunia usaha mengeluhkan kualitas lulusan yang dianggap belum sesuai kebutuhan. Jika pola saling menyalahkan ini terus berlangsung, maka kita akan terus mengulang diskusi yang sama tanpa pernah menemukan solusi yang berkelanjutan.
Mungkin sudah saatnya kita duduk bersama dan membangun sistem yang lebih terintegrasi.
Dalam beberapa waktu terakhir saya mencoba membayangkan, mengapa dunia kesehatan mampu membangun sistem informasi yang relatif lebih terhubung dibandingkan dunia pendidikan?
Ketika seseorang datang ke rumah sakit dengan membawa rekam medisnya, dokter akan lebih mudah memahami kondisi pasien tersebut. Riwayat penyakit, alergi, tindakan medis, hingga perkembangan kesehatannya dapat ditelusuri secara lebih komprehensif. Akibatnya, keputusan yang diambil menjadi lebih tepat. Pasien juga lebih memahami kondisi dirinya sendiri sehingga dapat menghindari perilaku yang berpotensi merugikan kesehatannya.
Lalu muncul pertanyaan sederhana.
Mengapa konsep serupa belum dikembangkan secara serius dalam dunia pendidikan?.Mengapa kita tidak memiliki sistem rekam pendidikan yang
mampu menggambarkan perkembangan seorang anak sejak usia dini hingga memasuki dunia kerja? Hari ini, seorang anak masuk sekolah dengan membawa rapor akademik, tetapi sering kali tanpa membawa informasi yang cukup mengenai karakter, minat, bakat, kecenderungan belajar, kekuatan, maupun tantangan yang dimilikinya.
Padahal orang tua adalah pihak pertama yang mengenal anak tersebut. Mereka mengetahui kebiasaan, kelebihan, ketakutan, pola komunikasi, hingga cara anak merespons lingkungan sekitarnya.
Informasi ini sesungguhnya sangat berharga sebagai modal awal bagi sekolah.
Bayangkan apabila setiap anak memiliki profil perkembangan yang disusun secara sistematis sejak dini.
Orang tua memberikan informasi dasar mengenai karakter anak. Sekolah melakukan observasi dan pengukuran berkala. Psikolog pendidikan melakukan asesmen pada tahap-tahap tertentu. Guru mencatat perkembangan akademik, sosial, kepemimpinan, kreativitas, dan kemampuan kolaborasi.
Seluruh data tersebut terdokumentasi dalam sebuah sistem yang terus diperbarui sepanjang perjalanan pendidikan anak. Ketika anak melanjutkan ke jenjang berikutnya, sekolah baru tidak memulai dari nol.
Mereka telah memiliki gambaran awal mengenai siapa peserta didik yang akan mereka hadapi. Perguruan tinggi juga dapat memahami kecenderungan calon mahasiswa secara lebih akurat. Dunia usaha memperoleh informasi yang lebih baik mengenai kompetensi calon tenaga kerja.
Pemerintah dapat memetakan kebutuhan sumber daya manusia berdasarkan data yang lebih komprehensif. Dengan kata lain, pendidikan tidak lagi sekadar menghasilkan ijazah, tetapi menghasilkan peta perkembangan manusia. Beberapa negara maju telah mengembangkan pendekatan serupa melalui sistem portofolio belajar, student profile, maupun lifelong learning record yang mendokumentasikan perjalanan belajar seseorang sepanjang hidupnya.
Indonesia tentu tidak harus menyalin sistem tersebut secara utuh. Namun semangatnya layak dipertimbangkan. Karena tantangan masa depan tidak lagi hanya berbicara tentang siapa yang memiliki nilai tertinggi. Kecerdasan buatan, otomatisasi, dan perubahan dunia kerja berlangsung begitu cepat. Banyak pekerjaan yang ada hari ini mungkin tidak lagi relevan dalam dua dekade mendatang.
Karena itu pendidikan harus mampu membantu peserta didik memahami dirinya sendiri sebelum memahami dunia. Anak yang memahami dirinya akan lebih mudah menentukan arah hidupnya. Orang tua yang memahami potensi anak akan lebih bijak dalam mendampingi.
Sekolah yang memahami karakter peserta didik akan lebih efektif dalam mendidik. Pemerintah yang memahami peta potensi generasi muda akan lebih tepat dalam merumuskan kebijakan. Dan dunia usaha yang memahami kebutuhan kompetensi masa depan akan lebih siap menghadapi perubahan. Pada akhirnya, pembangunan bangsa bukan semata-mata persoalan infrastruktur, investasi, atau pertumbuhan ekonomi.
Fondasi terkuat sebuah peradaban tetaplah manusia. Karena itu, jika kita ingin membangun Indonesia yang lebih maju, lebih adil, dan lebih berkelanjutan, maka kita harus mulai membangun sistem pendidikan yang mampu melihat manusia secara utuh.
Ki Hajar Dewantara telah meletakkan fondasinya.
Tugas generasi hari ini bukan menggantikan fondasi tersebut, melainkan melengkapinya dengan sistem yang sesuai dengan kebutuhan zaman. Sebab masa depan bangsa tidak ditentukan oleh seberapa banyak sekolah yang kita bangun, tetapi oleh seberapa baik kita memahami dan mengembangkan manusia yang belajar di dalamnya.
Penulis: Dosen Fisip Universitas Persada Bunda Indonesia (UPBI) dan Pemerhati Kebijakan Publik.
