Ketika Kebenaran Dikeroyok

Oleh: Maal Abrar, M.I.Kom

ADA sebuah perumpamaan yang sejak lama hidup di tengah masyarakat.

Lele paling mudah mencari makan ketika air kolam keruh. Semakin keruh airnya, semakin sulit orang melihat apa yang sebenarnya terjadi. Dalam air yang bening, segala sesuatu tampak jelas. Dalam air yang keruh, kebenaran dan kebohongan sering kali terlihat serupa.

Perumpamaan lain bahkan lebih mengusik.

Bayangkan sebuah bus kota berisi dua puluh penumpang. Separuh lebih di antaranya adalah pencopet. Ketika seorang penumpang memergoki aksi pencopetan dan berteriak, “Pencopet!”, yang terjadi justru di luar nalar. Teman-teman pelaku segera menunjuk balik orang yang berteriak itu sebagai pencopet. Dalam hitungan detik, massa ikut tersulut. Orang yang berusaha mengingatkan justru menjadi korban.

Terdengar berlebihan?
Mungkin tidak.

Sebab akhir-akhir ini kita sering menyaksikan fenomena serupa dalam kehidupan berbangsa. Ketika kabut asap kembali menyelimuti wilayah-wilayah tertentu, perdebatan lebih ramai daripada solusi. Ketika antrean BBM masih mengular, masyarakat justru disuguhi saling menyalahkan.

Ketika kasus keracunan dalam program Makan Bergizi Gratis terus menjadi perhatian publik, empati sering kalah cepat dibanding narasi pembelaan diri. Ketika daerah mengeluhkan fiskal yang semakin sempit, publik menyaksikan polemik lembaga baru, jabatan baru, dan berbagai kontroversi anggaran.

Seolah-olah yang paling sibuk bukan menyelesaikan masalah, melainkan mengelola persepsi tentang masalah.

Dalam teori anomie, sosiolog Emile Durkheim menjelaskan bahwa masyarakat dapat mengalami kekacauan nilai ketika batas antara yang benar dan yang salah menjadi kabur. Pada titik tertentu, penyimpangan tidak lagi dianggap luar biasa, tetapi menjadi sesuatu yang biasa.

Dan mungkin inilah ujian terbesar bangsa kita hari ini. Bukan kekurangan sumber daya. Bukan kekurangan aturan. Bukan pula kekurangan orang pintar.

Melainkan kekurangan keteladanan dan empati. Namun ada kabar baik dari semua keadaan yang terasa sesak ini.

Sejarah menunjukkan bahwa bangsa-bangsa besar sering lahir dari masa-masa sulit. Indonesia sendiri tidak dibangun oleh kenyamanan. Negara ini lahir dari penderitaan yang sama, dari kesadaran bahwa nasib tidak akan berubah jika rakyat terus membiarkan dirinya dipecah dan diperdaya.

Karena itu, asap, antrean BBM, kegaduhan politik, hingga berbagai persoalan pelayanan publik harus dibaca sebagai cermin, bukan sekadar keluhan.

Cermin untuk bertanya kepada diri sendiri: apakah kita masih memilih karena integritas, atau karena popularitas? Apakah kita masih menghargai kejujuran, atau justru membiarkan air kolam terus dikeruhkan?

Sebab ketika air sengaja dibuat keruh, yang pertama kali hilang bukanlah ikan.

Melainkan kemampuan kita membedakan siapa yang sedang menyelamatkan kolam, dan siapa yang sedang mengambil keuntungan darinya.

Penulis: Dosen FISIP Universitas Persada Bunda Indonesia (UPBI), Pemerhati Kebijakan Publik dan Anggota PERHUMAS Pekanbaru.