Empati: Rumah Terakhir Persatuan Kita

Oleh: Maal Abrar, S.I.Kom., M.I.Kom

BEBERAPA waktu terakhir, ruang publik kita dipenuhi berbagai persoalan. Mulai dari bencana alam dan kabut asap, antrean BBM, dugaan keracunan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), konflik agraria, persoalan upah pekerja, hingga berbagai masalah sosial, ekonomi, dan hukum lainnya.

Setiap persoalan melahirkan beragam respons. Ada yang membela, ada yang menghujat, ada yang menyalahkan pemerintah, ada yang menyalahkan masyarakat, bahkan ada yang sengaja memperkeruh keadaan. Ironisnya, semakin banyak orang berbicara, semakin sedikit yang benar-benar mendengar.

Padahal bangsa ini lahir bukan karena kesamaan suku, agama, bahasa, atau kepentingan ekonomi. Indonesia berdiri karena kesadaran akan nasib yang sama. Semangat itulah yang melahirkan Sumpah Pemuda tahun 1928. Para pemuda dari berbagai daerah, budaya, dan latar belakang sepakat mengesampingkan perbedaan demi cita-cita yang lebih besar. Mereka memahami bahwa penderitaan satu kelompok pada akhirnya adalah penderitaan bersama.

Dengan kata lain, sebelum ada persatuan, terlebih dahulu ada empati.

Hari ini tantangannya berbeda. Kita tidak lagi menghadapi penjajahan fisik, tetapi menghadapi gejala yang tidak kalah berbahaya, yaitu menipisnya kepedulian sosial. Kita mulai terbiasa melihat persoalan orang lain sebagai tontonan, bukan sebagai panggilan untuk peduli. Kita lebih cepat memberikan komentar daripada memahami konteks. Kita lebih mudah menghakimi daripada mencari jalan keluar.

Saat petani kehilangan lahan akibat konflik agraria, sebagian masyarakat menganggap itu urusan petani. Saat sopir harus mengantre BBM berjam-jam, sebagian menganggap itu risiko pekerjaan. Saat kabut asap mengganggu kesehatan masyarakat, sebagian lainnya hanya melihatnya sebagai berita yang lewat di layar telepon genggam.

Padahal tidak ada masalah bangsa yang benar-benar berdiri sendiri. Cepat atau lambat, dampaknya akan saling terhubung. Inilah mengapa para pendiri bangsa memilih kata “persatuan” sebagai fondasi negara, bukan sekadar slogan politik.

Saya teringat perumpamaan sederhana tentang kawanan kambing di padang rumput. Seekor kambing yang berjalan sendiri lebih mudah menjadi sasaran dibandingkan kambing yang tetap bersama kelompoknya. Bukan karena mereka lebih kuat, tetapi karena mereka saling menjaga, saling mengingatkan, dan saling memberi tanda ketika ada bahaya.

Begitu pula sebuah bangsa. Ancaman terbesar sering kali bukan datang dari luar, melainkan ketika sesama anak bangsa mulai kehilangan rasa memiliki terhadap persoalan bersama.

Karena itu, kita tidak boleh membiarkan para pemimpin eksekutif maupun legislatif bekerja sendirian. Terlalu mudah bagi masyarakat untuk hanya mengkritik dari kejauhan. Namun terlalu mudah pula bagi pemimpin untuk merasa cukup dengan laporan di atas meja dan pujian dari lingkaran terdekatnya.

Bangsa ini tidak dibangun oleh pemimpin semata. Bangsa ini juga tidak dibangun oleh rakyat semata. Bangsa ini dibangun oleh keduanya yang berjalan bersama.

Pemimpin membutuhkan masukan, kritik, gagasan, dan energi masyarakat. Sebaliknya, masyarakat membutuhkan ruang yang sehat untuk menyampaikan pandangan dan harapannya. Ketika ruang dialog menyempit, yang muncul adalah prasangka. Ketika komunikasi terputus, yang tumbuh adalah ketidakpercayaan.

Mungkin inilah yang perlu kita bangun hari ini: bukan hanya infrastruktur fisik, tetapi juga infrastruktur empati. Jika jalan menghubungkan satu daerah dengan daerah lain, maka empati menghubungkan satu hati dengan hati yang lain. Jika jembatan menghubungkan dua tepi sungai, maka dialog menghubungkan rakyat dengan pemimpinnya. Jika teknologi mempercepat arus informasi, maka empati memastikan informasi itu tetap memiliki nilai kemanusiaan.

Perlu kita hadirkan ke depan adalah menjadikan setiap persoalan publik sebagai ruang belajar bersama. Bukan ruang saling menyalahkan. Setiap bencana harus melahirkan solidaritas. Setiap konflik harus melahirkan dialog. Setiap kritik harus membuka ruang perbaikan.

Sebab bangsa yang maju bukanlah bangsa yang tidak memiliki masalah. Bangsa yang maju adalah bangsa yang mampu mengubah masalah menjadi energi untuk memperkuat persatuan.

Jika dahulu Sumpah Pemuda lahir dari kesadaran senasib sepenanggungan, maka Indonesia masa depan hanya akan tetap kokoh apabila kita mampu menjaga empati sebagai budaya bersama.

Karena persatuan yang dibangun oleh kepentingan akan berakhir ketika kepentingan berubah. Namun persatuan yang dibangun oleh empati akan tetap hidup, bahkan ketika keadaan sedang tidak baik-baik saja.

Dan mungkin, di tengah banyaknya persoalan yang kita hadapi hari ini, empati bukan lagi sekadar nilai moral.

Empati adalah rumah terakhir persatuan kita.

Penulis: Dosen Universitas Persada Bunda Indonesia (UPBI), Pemerhati Kebijakan Publik dan Anggota Perhumas Pekanbaru.