Indonesia Datangkan 1 Juta Tablet Molnupiravir pada Desember

MORALRIAU.COM – Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dalam rapat dengan Komisi IX DPR, Senin (8/11) mengatakan bahwa uji klinis terkait dengan obat-obat Covid-19 tengah berjalan. ”Yang lagi ramai dibicarakan adalah Molnupiravir dari Merck,” ucap Budi. Obat itu diberikan kepada orang yang saturasinya di atas 95 atau yang belum masuk rumah sakit.

Ucapan Budi tersebut berdasar pada hasil uji klinis di beberapa negara.

Dilansir dari jawapos, Budi menjelaskan, kunjungannya ke Amerika beberapa waktu lalu membuahkan hasil positif. Merck mau menjual Molnupiravir kepada Indonesia. Jumlahnya 600 ribu sampai 1 juta tablet yang akan datang pada Desember.

Yang menjadi pekerjaan rumah terbaru adalah pemberian vaksin Covid-19 kepada anak usia 6–11 tahun. Sejauh ini, vaksin Sinovac, Sinopharm, dan Pfizer sudah mendapat izin penggunaan darurat (emergency use authorization, EUA) di luar negeri. Namun, di Indonesia, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) baru memberikan EUA pada Sinovac.

Jumlah anak usia 6–11 tahun di Indonesia tercatat 26,4 juta jiwa. Artinya, vaksin Covid-19 yang dibutuhkan mencapai 58,7 juta dosis. ”Ini belum ada di anggaran kita. Namun, sudah dipastikan masuk anggaran tahun depan,” ucapnya.

Sementara itu, BPOM tengah menunggu pendaftaran dua vaksin yang bisa digunakan untuk anak usia 6–11 tahun. Yakni, Sinopharm dari Tiongkok dan Pfizer dari Amerika Serikat.

Kepala BPOM Penny K. Lukito menyampaikan, registrasi Sinopharm mulai diproses. Kendati begitu, pihaknya masih menunggu data lebih lengkap dari Tiongkok sebelum menerbitkan EUA pada anak usia 3 tahun ke atas.

Untuk Pfizer, sudah ada EUA dari FDA Amerika Serikat. Tinggal menunggu diregistrasikan di BPOM sehingga EUA-nya bisa dikeluarkan untuk vaksinasi Covid-19 anak usia 5 tahun ke atas. ”Karena usia tersebut lebih rentan, butuh data lebih lengkap untuk keamanannya,” tuturnya.

Saat ini setidaknya ada 13 vaksin dari berbagai platform yang mendapat EUA dari BPOM. Di antaranya, CoronaVac (Sinovac), vaksin Covid-19 Bio Farma, AstraZeneca, Sinopharm, Moderna, dan Pfizer. Kemudian, Sputnik V, Janssen (Johnson & Johnson), Convidecia (CanSino), dan Zifivax.

Direktur Utama (Dirut) PT Bio Farma Honesti Basyir menambahkan, hingga Desember 2021 jumlah vaksin yang akan masuk Indonesia mencapai 326,8 juta dosis yang mencakup tujuh jenis vaksin. Jumlah itu di luar vaksin hibah atau donasi dari Covax Facility.

”Ini yang masuknya melalui kami. Ada beberapa vaksin yang langsung ke Kementerian Kesehatan,” ungkapnya.

Honesti juga memastikan pasokan obat terapi Covid-19 aman pada masa Natal dan tahun baru (Nataru). Dia menjabarkan, empat obat kategori utama bisa digunakan untuk ratusan ribu hingga jutaan pasien sesuai dengan dosisnya. Misalnya, Favipiravir tersedia untuk 335 ribu pasien; Remdesivir 21,5 ribu pasien; Oseltamivir bisa meng-cover 1,2 juta pasien; dan Ivermectin 626 ribu pasien. Seluruh paket isolasi mandiri itu telah didistribuskan ke daerah.

Setelah pada Oktober lalu Merck mengumumkan Molnupiravir sebagai kandidat kuat obat oral untuk Covid-19, Pfizer mengumumkan obat oral bernama Paxlovid untuk terapi pasien Covid-19. Obat berjenis protease inhibitor yang mulanya dikembangkan pada 2003 untuk mengobati infeksi virus SARS-CoV. Obat itu kemudian di-repurpose untuk pengobatan Covid-19. (*)

Komentar