PEKANBARU, MORALRIAU.COM – Kebutuhan enggrek dan dodos sawit masih menjadi peluang besar yang belum tergarap maksimal. Riau memiliki luas lahan sawit lebih dari 2,4 juta hektare. Namun sayang Industri Kecil Menengah (IKM) di Riau belum bisa ambil bagian untuk mencukupi kebutuhan dodos dan enggrek.
Salah satu penyebabnya adalah belum adanya standar yang dikeluarkan oleh IKM pandai besi di Riau. Sebab mereka masih menggunakan cara-cara dan alat tradisional.
“Perusahaan sawit besar di Riau banyak, tapi mereka tidak mau menggunakan enggrek dan dodos yang tidak punya SNI,” kata Kepala Dinas Perindustrian Provinsi Riau, Asrizal, Rabu (8/5/19).
“Pasokan enggrek dan dodos di Riau masih diimpor dari luar negeri. Sebagian besar di impor dari China,” imbuhnya.
Menurut Asrizal, di Riau setidak ada 78 IKM pandai besi yang memproduksi enggrek dan dodos sawit. Namun IKM tersebut masih menggunakan alat tradisional dalam memproduksi enggrek dan dodos. Selain itu, produk yang dihasilkan juga belum memiliki SNI.
“Dalam pemasaran mereka juga masih tradisional. Belum bisa masuk ke pasar tradisional dan e-commerce,” ujarnya.
Agar produk-produk IKM ini bisa bersaing dan memiliki SNI, pihaknya akan melakukan pembinaan dan pelatihan kepada pandai besi. Selain itu, pihaknya juga mengusulkan ke Kementerian Perindustrian untuk meminta peralatan untuk IKM pandai besi.
“Pembinaan kita lakukan secara bertahap. Untuk tahap awal ini sudah 30 IKM yang kita lakukan pembinaan,” katanya.
Pihaknya berharap, kedepan SDM pandai besi dalam memproduksi enggrek dan dodos bisa bersaing di pasar global. Sehingga saat ada bantuan alat para pandai besi sudah siap untuk mengooperasikan. Sebab dengan menggunakan alat modern, jumlah produksi enggrek dan dodos bisa berkali-kali lipat jika dibandingkan dengan menggunakan alat tradisional.
“Kalau yang manual dalam sehari itu paling bisa memproduksi 9 sampai 12 unit, tapi dengan teknologi bisa 10 kali dari yang manual,” pungkasnya. (*)








Komentar