PEKANBARU, MORALRIAU.COM – Universitas Persada Bunda Indonesia (UPBI) menggelar sidang terbuka dalam rangka wisuda program sarjana Tahun Akademik 2025/2026 di Pekanbaru, Kamis (24/9/2026).
Dalam wisuda tersebut, UPBI mewisuda sebanyak 312 mahasiswa dari berbagai program studi. Rinciannya, Program Studi Manajemen sebanyak 105 orang, Akuntansi 17 orang, Ilmu Komunikasi 49 orang, Sastra Inggris 14 orang, dan Ilmu Hukum sebanyak 127 orang.
Ketua Senat UPBI, Dr. Irfan Ardiansyah, SH, MH, mengatakan pelaksanaan wisuda kali ini merupakan yang kedua kalinya setelah UPBI berstatus sebagai universitas.
Hal tersebut, menurut Irfan, berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan, Riset dan Teknologi Nomor 634/E/O/2026 tertanggal 19 September 2025.
“Hari ini bukan sekadar mengenakan toga dan menerima ijazah. Hari ini juga bukan sekadar seremonial akademik. Hari ini adalah ketika sebuah perjalanan panjang ditandai dengan sebuah pencapaian, dan pada saat yang sama dimulai pula perjalanan panjang yang baru,” kata Irfan.
Ia menyampaikan, angka 312 mungkin hanya sebuah angka. Namun bagi UPBI, 312 merupakan angka yang menggambarkan cerita dan perjuangan para mahasiswa dalam menyelesaikan pendidikan.
“Ada yang awalnya datang ke kampus penuh dengan harapan. Ada yang harus membagi waktu antara kuliah dan pekerjaan. Ada yang melewati berbagai tantangan akademik, bahkan mungkin hampir menyerah. Namun hari ini semuanya berdiri dengan toga dan senyum kebanggaan,” ujarnya.
Menurutnya, ijazah yang diterima para wisudawan bukan hanya tanda telah menyelesaikan pendidikan, tetapi juga menjadi bukti perjalanan dan perjuangan yang telah dilalui.
“Ijazah ini adalah bukti kita pernah berjuang, berdarah-darah, berair mata, menangis, penuh kesedihan, penuh kecewa, namun berhasil melewati sebuah proses,” katanya.
Irfan menegaskan, universitas tidak boleh hanya menjadi tempat untuk memperoleh gelar. Tetapi harus menjadi tempat untuk membangun kompetensi, karakter, jejaring, serta keberanian dalam menghadapi masa depan.
Karena itu, UPBI terus berupaya melakukan penguatan kelembagaan dan memperluas jejaring kerja sama dengan berbagai pihak.
“Dalam beberapa waktu terakhir, Universitas Persada Bunda Indonesia terus membangun dan mengembangkan kerja sama dengan berbagai pihak, baik pemerintah, lembaga swasta, organisasi profesi, maupun sekolah-sekolah mitra,” jelasnya.
Ia menegaskan, kerja sama tersebut bukan sekadar untuk menambah jumlah dokumen Memorandum of Understanding (MoU), tetapi harus memberikan manfaat nyata bagi mahasiswa, lulusan dan masyarakat.
“Kerja sama dengan perguruan tinggi kami arahkan untuk memperkuat penelitian, pendidikan, dan pengabdian kepada masyarakat. Termasuk pertukaran pengetahuan, pengembangan sumber daya manusia, serta berbagai kegiatan akademik lainnya,” ungkapnya.
Sementara kerja sama dengan instansi pemerintah dan lembaga swasta, lanjutnya, diarahkan agar mahasiswa mendapatkan kesempatan memahami dunia nyata, mengenal lingkungan kerja, serta mengimplementasikan ilmu yang diperoleh di ruang kuliah.
“Kita ingin melahirkan lulusan yang mampu bersaing secara global dan nasional, tetapi tetap memiliki akar nilai etika, sopan santun, dan karakter yang kuat. Artinya, kecerdasan harus berjalan bersama nilai dan moral,” katanya.
Karena itu, ia berharap lulusan UPBI tidak hanya menjadi orang-orang yang cerdas, tetapi juga menjadi manusia yang berintegritas, bertanggung jawab, serta mampu memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Setelah ini, saudara tidak lagi hanya membawa nama pribadi. Di mana pun bekerja dan berkarya, di situ ada nama Universitas Persada Bunda Indonesia yang ikut terbawa,” pesannya.
Sebaliknya, ia mengingatkan para lulusan agar menjaga nama baik almamater dengan menjunjung tinggi integritas.
“Apabila saudara tidak menjaga integritas, maka bukan hanya nama pribadi yang dipertaruhkan, nama almamater juga ikut dipertaruhkan,” tegasnya.
Kepada para wisudawan, Irfan menitipkan tiga pesan. Pertama, menjaga integritas. Kedua, tidak pernah berhenti belajar. Ketiga, menjadi manusia yang memberikan manfaat.
“Jika suatu hari nanti saudara menjadi seorang ahli hukum, jadilah ahli hukum yang membela kebenaran dan keadilan. Jika menjadi seorang akuntan, jadilah akuntan yang berintegritas dan jujur. Jika menjadi manajer, jadilah pemimpin yang mampu membawa orang lain berkembang,” tuturnya.
“Jika saudara menjadi praktisi komunikasi, jadilah komunikator yang mencerdaskan dan humanis. Jika menjadi profesional di bidang bahasa dan sastra, jadilah insan yang mampu menjembatani manusia dan peradaban. Apa pun profesi kelak, jadilah manusia yang dibutuhkan karena kompetensinya dan dihormati karena integritasnya,” sambungnya.
Dalam kesempatan tersebut, Irfan juga menyampaikan apresiasi kepada para orang tua dan keluarga wisudawan yang telah mendukung perjalanan pendidikan para mahasiswa hingga berhasil menyelesaikan studi.
Menurutnya, keberhasilan wisudawan tidak terlepas dari peran orang tua, suami, istri, maupun anak yang senantiasa memberikan doa, dukungan, semangat, hingga membantu memenuhi kebutuhan pendidikan.
“Di balik seorang sarjana yang berdiri di atas panggung hari ini, ada peran orang tua, istri, suami, bahkan anak. Ada yang mengantar ke kampus, membayar biaya pendidikan, memberikan doa dan semangat,” katanya.
Ia menyebut, perjuangan keluarga dalam mendukung pendidikan terkadang dilakukan dengan berbagai cara, termasuk melalui pengorbanan yang tidak selalu terlihat.
“Ketika hari ini menjadi hari bahagia, jangan lupakan bahwa toga yang saudara kenakan juga merupakan hasil dari doa orang tua dan keluarga tercinta,” pungkasnya. (wir)
