oleh

Springbed Abal-abal, Dari Produsen Rp 140 Ribu Dijual Rp 1,2 Juta

MORALRIAU.COM – Produsen springbed abal-abal atau kasur pegas tanpa merk di Desa Grobog Kulon Kecamatan Pangkah Kabupaten Tegal akhirnya ditutup. Mereka terpaksa berhenti produksi, setelah video warga Kelurahan Kuripan Kecamatan Pekalongan Selatan Kota Pekalongan yang melampiaskan emosinya dengan merusak kasur pegas yang dijual oleh sales keliling, Minggu (3/1) lalu, viral di media sosial.

Warga merasa tertipu oleh sales tersebut. Setelah dibongkar, kasur pegas dibuat dari bahan seadanya yakni kardus, tali kain dan kayu pinus.

Salah satu produsen kasur pegas, Riyanto, 40, warga RT 04 RW 05 Desa Grobog Kulon Kecamatan Pangkah mengakui jika sales kasur pegas yang menjadi sasaran emosi warga Pekalongan adalah karyawannya. Ada tiga orang, Ahmad Sekhemi, Ahmad Yulianto, dan Ramedon.

“Iya itu sales saya, tapi mereka mereka menjadi korban salah sasaran. Warga belinya di sales lain,” kata Riyanto, saat ditemui di rumahnya, seperti dikutip Radar Tegal (Jawa Pos Group), Jumat (8/1).

Riyanto mengungkapkan, kasur pegas yang dijual memang bukan buatan pabrikan. Namun dirakit oleh sejumlah pekerja di depan rumahnya. Rangkanya menggunakan kayu pinus. Sedangkan karet penyangga menggunakan tali kain perca dan dilapisi kardus bekas serta empat buah kawat berbentuk per. Untuk mempercantik tampilan, kasur dibungkus plastik transparan. “Harga dari saya Rp140.000 per unit. Sales mau menjual berapa terserah mereka,” ujarnya.

Riyanto mengaku tidak tahu jika saat menjajakan ke kampung-kampung, salesnya kerap menawarkan dengan harga tinggi yakni berkisar Rp 1.200.000 per unit. Bahkan, untuk memikat calon pembeli, sales sering mengatakan bahwa kasur yang dijual merupakan cuci gudang produsen besar.

“Saya tidak tahu kalau ada penawaran sampai segitu dan pakai omongan cuci gudang. Saya tahunya sales bayar ke saya sesuai harga yakni Rp 140.000 per kasur,” tegasnya.

Produksi kasur pegas tanpa merk itu sudah digeluti Riyanto selama dua tahun. Dalam sebulan rata-rata omzet penjualannya mencapai 100 kasur. “Kalau jualnya nggak mesti sehari laku berapa. Ya rata-rata sebulan 100 kasur. Sekitar segitu,” ungkapnya.

Atas kejadian yang menimpa tiga salesnya di Pekalongan, Riyanto diminta membuat Surat Pernyataan tidak lagi menjual kasur pegas tanpa merk di wilayah Pekalongan. Surat Pernyataan tersebut dibuat di Polsek Pekalongan Selatan disaksikan warga dan Polisi.

“Saat ini saya berhenti produksi dulu. Saya masih trauma dengan kejadian yang dialami sales saya kemarin di Pekalongan,” ujarnya.

Camat Pangkah Bambang Sihana bersama Kapolsek Pangkah AKP Awan Agus menyambangi sejumlah produsen kasur pegas tanpa merk di Desa Grobog Kulon, Rabu siang (6/1). Bambang Sihana mengaku akan segera mengumpulkan para produsen kasur tersebut.

“Nanti akan kami kumpulkan, kami beri pembinaan. Ya nanti kami beri pengertian kalau menjual dengan harga wajar dan jangan sampai merugikan konsumen,” ujarnya. (jawapos)

Komentar

News Feed