Ketua ICMI (Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia) Riau, Burhanuddin Agung
PEKANBARU, MORALRIAU.COM – Perkembangan kecerdasan artifisial (AI) yang semakin pesat mendorong masyarakat untuk menyiapkan kemampuan manusia yang tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh teknologi. Penguatan kecerdasan emosional dan spiritual dinilai menjadi bagian penting dalam membangun sumber daya manusia yang mampu beradaptasi dengan perubahan teknologi.
Ketua ICMI (Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia) Riau, Burhanuddin Agung mengatakan, perkembangan teknologi tidak semestinya dihadapi dengan kecemasan secara berlebihan. Menurutnya, manusia memiliki sejumlah kemampuan yang menjadi pembeda mendasar dengan mesin, sehingga perkembangan AI justru perlu disikapi dengan penguatan potensi manusia.
“Saya hanya ingin menyampaikan bahwa kecemasan atau kegalauan kita semua dalam menghadapi perkembangan teknologi ke depan semestinya tidak perlu terlalu dikhawatirkan secara berlebihan. Sebab, jika kita lihat terdapat perbedaan mendasar antara manusia dan mesin,” kata Burhanuddin di Kantor DPRD Riau, Sabtu (24/10/2026).
Ia menjelaskan, manusia memiliki tiga bentuk kecerdasan yang saling melengkapi, yakni kecerdasan intelektual atau IQ, kecerdasan emosional atau EQ, dan kecerdasan spiritual atau SQ. Sementara AI, menurutnya, bekerja terutama melalui kemampuan pengolahan informasi yang berkaitan dengan aspek intelektual.
“Manusia memiliki tiga jenis kecerdasan IQ (Kecerdasan Intelektual), kita juga memiliki EQ (Kecerdasan Emosional) dan SQ (Kecerdasan Spiritual). Sementara itu, kecerdasan artifisial (AI) hanya mengandalkan satu aspek saja, yakni IQ,” jelasnya.
Karena itu, ia menilai tantangan utama di tengah perkembangan AI bukan semata-mata terletak pada kemampuan teknologi yang semakin canggih. Persoalan yang lebih penting adalah bagaimana manusia mampu mengembangkan potensi EQ dan SQ yang menjadi bagian dari kekuatan manusia dalam berinteraksi, mengambil keputusan, serta membangun kehidupan sosial.
“Oleh karena itu, persoalannya sekarang adalah kita sering kali terjebak dalam rasa galau menghadapi perkembangan teknologi ini tanpa menyadari bahwa di dalam diri kita sendiri terdapat dua kecerdasan lain (EQ dan SQ) yang selama ini mungkin justru kita abaikan,” ungkapnya.
Burhanuddin menyebut kekhawatiran terhadap AI masih sering disampaikan berbagai kelompok masyarakat ketika membahas masa depan teknologi. Padahal, kecemasan tersebut dapat dijawab dengan meningkatkan kemampuan manusia yang tidak hanya bertumpu pada penguasaan teknologi, tetapi juga pada kematangan emosional dan spiritual.
“Sering kali ketika saya bertemu dengan berbagai komponen masyarakat, keluhannya selalu khawatir dengan AI. Padahal, kita memiliki dua kecerdasan lain yang mungkin belum kita kembangkan atau kita eksplorasi secara optimal, yang sebenarnya justru menjadi jawaban atas perkembangan AI di masa depan,” ujarnya.
Diterangkan, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian dalam penyusunan kebijakan pendidikan, khususnya di Riau. Pendidikan tidak cukup hanya membekali pelajar dengan kemampuan akademik dan penguasaan teknologi, tetapi juga perlu memberikan ruang bagi pengembangan karakter, kecerdasan emosional, serta nilai-nilai spiritual.
Ia menambahkan, kebijakan pendidikan berbasis lokal dapat menjadi ruang untuk mengembangkan pendekatan tersebut sesuai dengan kebutuhan dan karakter masyarakat Riau. Penguatan EQ dan SQ sejak bangku sekolah diharapkan dapat membentuk generasi yang mampu memanfaatkan teknologi secara bijak tanpa kehilangan kemampuan manusiawinya.
“Maka dari itu, jika di Riau ini ada kebijakan pendidikan berbasis lokal, bukan tidak mungkin kita susun nantinya kurikulum pendidikan yang berkaitan dengan pengembangan EQ dan SQ bagi para pelajar di sekolah-sekolah kita. Hal inilah yang akan kita kaji nanti insya Allah pada bulan Desember,” pungkasnya. (***)








Komentar