MERANTI, MORALRIAU.COM – Enam malam sudah Kapolres Kepulauan Meranti AKBP Gede Prasetia Adi Sasmita, S.I.K., bertahan di lokasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Dusun Penapat, Desa Gemala Sari, Kecamatan Rangsang.
Bukan sekadar memantau dari posko, orang nomor satu di jajaran Polres Kepulauan Meranti itu memilih berada di tengah kepulan asap dan panasnya lahan gambut. Hingga Selasa (8/9), Gede Adi masih turun langsung memimpin sekaligus membantu personel gabungan memadamkan api yang belum sepenuhnya terkendali.
Siang dan malam dilalui di lokasi. Pemadaman bahkan kerap berlangsung hingga sekitar pukul 02.00 WIB. Hanya beberapa jam beristirahat, sekitar pukul 05.00 WIB aktivitas kembali dilanjutkan dengan memantau titik-titik api dan perkembangan kondisi lapangan.
“Kalau api belum bisa kita kendalikan, kita tidak bisa meninggalkan lokasi. Kita harus memastikan api tidak menjalar dan terus dilakukan pemadaman serta pendinginan,” kata Gede Adi.
Medan yang dihadapi bukan lahan biasa. Api membakar kawasan gambut dengan kedalaman sekitar tiga hingga empat meter. Bara bisa menghilang dari pandangan, tetapi tetap hidup di bawah permukaan tanah dan sewaktu-waktu kembali muncul ketika mendapat suplai udara.
Ancaman semakin besar karena angin laut bertiup cukup kencang. Arah angin yang berubah-ubah membuat pergerakan api sulit diprediksi. Titik yang sebelumnya terlihat aman bisa kembali terbakar dan menjalar ke bagian lahan lainnya.
Kondisi tersebut membuat Gede Adi memilih tetap berada di lapangan. Ia ikut melihat langsung kondisi medan, mengatur pergerakan personel, menentukan titik penanganan, serta memastikan pemadaman dan pendinginan menjangkau bagian-bagian lahan yang sulit diakses.
“Memang kondisinya berat. Tapi yang paling penting bagaimana api ini segera dikendalikan agar tidak meluas,” ujarnya.
Karhutla di Gemala Sari sebelumnya telah meluas hingga sekitar 85 hektare. Luasan tersebut membuat penanganan tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat. Petugas harus memburu titik api sekaligus melakukan pendinginan secara berulang untuk mencegah bara di bawah permukaan gambut kembali menyala.
Hingga Selasa pukul 06.00 WIB, pemantauan di wilayah hukum Polres Kepulauan Meranti masih menunjukkan satu fire spot (FS) dengan intensitas medium di Desa Gemala Sari. Titik tersebut berada pada koordinat 0°55’12.22″ N, 102°58’59.16″ E atau sekitar 0.92006, 102.9831.
Sementara itu, hotspot (HS) tidak terpantau. Kondisi cuaca dilaporkan cerah dan tidak terdapat laporan maupun titik banjir di wilayah hukum Polres Kepulauan Meranti.
Pemadaman hingga pendinginan terus dilakukan secara bersama-sama. Kapolres dan jajaran bekerja bersama Masyarakat Peduli Api (MPA), tim PT SRL, PT NSP, serta masyarakat setempat.
Namun, padamnya api di permukaan belum menjadi tanda pekerjaan selesai.
Justru bara yang tersembunyi di dalam gambut menjadi ancaman terbesar. Api dapat bertahan di bawah tanah, kemudian kembali muncul dan memicu kebakaran baru ketika kondisi memungkinkan.
Karena itu, setiap titik yang telah dipadamkan tetap harus menjalani proses pendinginan. Personel tidak hanya mengejar kobaran yang terlihat, tetapi memastikan panas dan bara di bawah permukaan benar-benar dikendalikan.
“Kita tidak hanya mengejar api yang terlihat. Pendinginan juga harus dilakukan supaya bara di bawah gambut tidak kembali menyala,” tegas Gede Adi.***(Mihrab.P)

















Komentar