Warga tempatan kesusahan melewati danau ketika musim kemarau tiba.
KAMPAR, MORALRIAU.COM – Danau Tanjung Kudu di wilayah Desa Persiapan Tanjung Kudu, Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar, Riau, kini menghadapi ancaman serius. Danau yang selama bertahun-tahun menjadi sumber penghidupan masyarakat diduga mengalami pendangkalan parah diperkirakan mencapai 85 persen.
Kondisi ini bukan persoalan baru. Menurut warga, pendangkalan telah berlangsung selama belasan tahun dan semakin terlihat parah dalam beberapa tahun terakhir. Saat musim kemarau, sejumlah bagian danau bahkan tidak lagi dapat dilalui masyarakat.
Dampaknya mulai dirasakan warga. Populasi ikan yang sebelumnya cukup melimpah perlahan berkurang. Bagi masyarakat Tanjung Kudu yang selama ini memanfaatkan danau untuk mencari ikan, kondisi tersebut menjadi ancaman terhadap mata pencaharian mereka.
Tak hanya itu, Danau Tanjung Kudu selama ini juga menjadi salah satu jalur transportasi masyarakat menuju perkebunan.
Warga menduga salah satu penyebab utama pendangkalan berasal dari material tanah, pasir dan lumpur atau sedimentasi yang terbawa aliran air dari kawasan perkebunan kelapa sawit yang luasnya mencapai ratusan hektare.
Pantauan Moralriau.com di lapangan menemukan adanya parit berukuran cukup besar yang mengalir dari kawasan perkebunan menuju danau.
Di sejumlah titik sekitar aliran parit juga terlihat material tanah yang menumpuk dan membentuk gundukan. Kondisi tersebut menimbulkan dugaan bahwa material lumpur, pasir dan tanah yang terbawa aliran air secara terus-menerus masuk ke kawasan danau dan berkontribusi terhadap proses pendangkalan.
Warga Minta Pemerintah dan APH Turun Tangan
Warga Tanjung Kudu, Uwin, meminta pemerintah dan aparat penegak hukum (APH) tidak membiarkan persoalan tersebut berlarut-larut.
Menurutnya, jika kondisi itu terus dibiarkan, bukan tidak mungkin Danau Tanjung Kudu akan kehilangan fungsi sebagai sumber ikan maupun jalur transportasi masyarakat.
“Kalau saya lihat, danau ini diperkirakan sudah 85 persen mengalami pendangkalan. Saya yakin kalau dibiarkan, air danau akan mengering. Masyarakat tidak lagi bisa mencari ikan dan akan kesulitan pergi ke kebun,” kata Uwin.
Ia membandingkan kondisi danau saat ini dengan kondisi belasan tahun lalu. Dahulu, kata dia, Danau Tanjung Kudu memiliki kedalaman dan lebar yang cukup besar sehingga dapat dilalui masyarakat, bahkan menurutnya kondisinya sama menyerupai Sungai Kampar.
“Dulu danau ini dalam dan lebar, sama dengan Sungai Kampar. Kemarau panjang pun tidak ada masalah, tidak terjadi pendangkalan seperti sekarang,” ujarnya.
Uwin mengatakan perubahan kondisi danau memberikan dampak langsung terhadap kehidupan masyarakat.
“Masyarakat Tanjung Kudu banyak menggantungkan hidup di danau ini, terutama untuk mencari ikan. Kemudian danau ini juga menjadi jalur transportasi untuk pergi ke kebun,” katanya.
Karena itu, ia bersama masyarakat berencana membawa persoalan tersebut kepada pemerintah serta pihak berwenang untuk mendapatkan penanganan.
“Ini tidak bisa lagi dibiarkan. Kita harus sampaikan masalah ini kepada pemerintah atau APH,” tegas Uwin.
Perlu Pemeriksaan Menyeluruh
Masyarakat berharap pemerintah daerah, instansi lingkungan hidup, maupun instansi teknis terkait segera melakukan pemeriksaan terhadap kondisi Danau Tanjung Kudu.
Pemeriksaan diperlukan untuk mengetahui tingkat pendangkalan secara terukur, sumber sedimentasi, perubahan aliran air, serta kemungkinan dampaknya terhadap lingkungan dan kehidupan masyarakat.
Jika dugaan sedimentasi dari aliran parit perkebunan terbukti menjadi penyebab pendangkalan, masyarakat berharap pemerintah dapat mengambil langkah sesuai ketentuan untuk mencegah kondisi danau semakin parah.
Bagi warga Tanjung Kudu, persoalan ini bukan sekadar masalah lingkungan. Hilangnya danau berarti hilangnya salah satu sumber penghidupan sekaligus jalur transportasi yang selama ini digunakan masyarakat.
Kini, masyarakat menunggu langkah konkret pemerintah sebelum Danau Tanjung Kudu benar-benar kehilangan fungsinya. (Wir)

















Komentar