BBSPJIKB Kemenperin dan BPDP Cetak UKM Riau Berdaya Saing Lewat Workshop Malam dan Anyaman Lidi Sawit

PEKANBARU, MORALRIAU.COM – Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik (BBSPJIKB) Kementerian Perindustrian bersama Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) kembali memperkuat sinergi dalam mendorong hilirisasi komoditas perkebunan sekaligus memperkuat ekonomi kerakyatan.

Kolaborasi yang telah memasuki tahun ke-11 tersebut diwujudkan melalui Workshop Berbasis Kompetensi Pembuatan Malam Sawit dan Workshop Berbasis Kompetensi Kerajinan Anyaman Lidi Sawit yang digelar selama empat hari, 30 Juni–3 Juli 2026, di Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Amin, Provinsi Riau.

Pemilihan Ponpes Al-Amin, yang merupakan salah satu lembaga binaan BPDP, menjadi simbol pemberdayaan ekonomi umat berbasis potensi lokal. Sebanyak 40 pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dari berbagai daerah di Riau mengikuti kegiatan ini.

Riau Dinilai Punya Potensi Besar

Pemerintah Provinsi Riau menyambut positif penyelenggaraan workshop tersebut. Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM Provinsi Riau menilai program ini menjadi salah satu upaya mempercepat pertumbuhan industri pengolahan nonmigas sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas sawit.

Sebagai provinsi dengan hamparan kebun kelapa sawit terluas di Indonesia, Riau dinilai memiliki potensi besar untuk mengembangkan berbagai produk turunan, termasuk pemanfaatan limbah sawit menjadi produk bernilai ekonomi.

Inovasi Malam Batik Berbahan Minyak Jelantah

Kepala BBSPJIKB, Zya Labiba dalam sambutannya menegaskan bahwa workshop tahun ini mengusung pembaruan teknis yang sangat signifikan melalui pendekatan circular economy (ekonomi sirkular) dan keberlanjutan (sustainability).

“Kemitraan kami dengan BPDP sejak 2015 senantiasa berfokus pada riset dan diversifikasi produk turunan sawit. Tahun 2026 ini, kami membawa inovasi yang lebih kuat ke Riau. Pada Workshop Pembuatan Malam Sawit, kami tidak hanya memanfaatkan stearin sebagai salah satu produk samping kelapa sawit, tetapi juga mengintegrasikannya dengan limbah minyak jelantah sebagai bahan baku utama. Ini merupakan langkah konkret penerapan industri hijau dengan mengubah limbah menjadi produk bernilai tambah tinggi bagi industri batik nasional,” ujarnya.

Selain pembuatan malam batik, workshop juga membekali peserta dengan keterampilan mengolah lidi sawit menjadi produk kerajinan bernilai jual melalui penerapan desain modern dan standardisasi mutu. Program ini melanjutkan kegiatan serupa yang sebelumnya telah dilaksanakan di Jawa Tengah, Maluku, Kalimantan Selatan, Jawa Timur, dan Manado.

Dorong UKM Naik Kelas

Sementara itu, Anwar Sadat dari Divisi Kerja Sama Kemasyarakatan dan UMKM BPDP mengatakan kegiatan tersebut sejalan dengan amanat Peraturan Presiden Nomor 132 Tahun 2024 dalam meningkatkan citra positif serta nilai tambah produk perkebunan Indonesia.

“BPDP memiliki komitmen kuat menyalurkan dana sawit secara tepat guna dan profesional untuk memajukan UKM. Provinsi Riau sebagai salah satu sentra kelapa sawit terbesar di Indonesia memiliki potensi luar biasa. Melalui pelatihan berbasis kompetensi ini, kami ingin memastikan para santri di Ponpes Al-Amin serta pelaku IKM lokal tidak hanya menjadi penonton, tetapi menjadi aktor utama dalam rantai pasok industri sawit berkelanjutan,” katanya.

Melalui pembekalan teknis tersebut, workshop diharapkan mampu melahirkan wirausaha baru, meningkatkan kompetensi pengrajin lokal, serta memperkuat daya saing produk turunan sawit Indonesia yang ramah lingkungan, inovatif, dan bernilai ekonomi tinggi.

Pembukaan workshop dihadiri Kepala BBSPJIKB Kementerian Perindustrian, Kepala Bidang Perindustrian Dinas Koperasi, UKM dan Perindustrian Kota Dumai, perwakilan BSPJI Kementerian Perindustrian Pekanbaru, Kepala Divisi Kerja Sama Kemasyarakatan dan UMKM BPDP, serta narasumber dari UPT Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT) KUMKM Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM Provinsi Riau. (*)