Warga dengan susah payah mendorong pelahu saat pergi ke kebun.
TANJUNG KUDU, MORALRIAU.COM – Warga Desa Persiapan Tanjung Kudu, Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar, Riau mengeluhkan kondisi danau yang semakin dangkal akibat aliran air dari parit perkebunan kelapa sawit. Akibatnya, banyak warga yang kesulitan pergi ke kebunya yang akses satu – satunya hanya danau tersebut.
Warga Tanjung Kudu Idris menyuarakan kekhawatiranya terhadap dampak lingkungan yang ditimbulkan oleh perkebunan kelapa sawit di wilayah tersebut. Perkebunan yang terletak tak jauh dari danau itu diduga menjadi penyebab utama pendangkalan danau yang luasnya diperkirakan ratusan hektar itu.
Menurutya, air dari parit yang dibuat oleh perkebunan sawit dan mengalir langsung ke danau. Endapan lumpur yang terbawa air menyebabkan pendangkalan yang cukup parah, sehingga perahu kecil milik warga pun sulit melintas.
Aliran parit perkebunan sawit yang mengalir langsung ke danau.
“Dulu air danau dalam, perahu bisa lewat dengan lancar. Sekarang sudah dangkal, sebagian danau yang terlihat hanya bentangan lumpur,” kata Idris, yang memiliki kebun dikawasan danau tersebut kepada wartawan.
Ia menyebutkan bahwa kondisi ini sudah berlangsung lebih 10 tahun, namun belum ada tindakan serius dari pihak perkebunan sawit.
“Kami minta danaunya dinormalisasi dan tutup aliran air paritnya. Sebab danau ini memiliki dua fungsi bagi masyarakat, pertama sebagai tempat mata pencaharian yaitu mencari ikan dan jalur masyarakat pergi ke lebun,” tambah Idris.
Danau saat ini yang terlihat hanya bentangan lumpur.
Idris berharap ada penanganan segera, seperti pengerukan danau dan menutup aliran air paritnya atau penataan sistem drainase dari perkebunan sawit agar tidak merugikan masyarakat sekitar.
“Dulu danau tersebut dalam dan juga lebar. Sekarang, yang terlihat hanya bentangan lumpur. Kami yakin ini penyebabnya karena air aliran parit perkebunan sawit,” kata Idris.
“Perkebunan sawit dengan luas rarusan hektar itu pemiliknya disebut-sebut bernama Manurung. Cobalah lihat kondisi danau sekarang mengalami pendangkalan hampir 80 persen,” kata Idris lagi.
Kondisi danau terlihat bentangan lumpur.
Sebelum terjadi pendangkalan, lebih dari 50 % masyarakat Tanjung Kudu bergantung hidup di danau tersebut, ada yang mencari ikan dan jalur akses warga ke kebun.
“Danau yang mengalami pendangkalan ini sebelumnya memiliki peran penting sebagai sumber perikanan air tawar. Jika tidak segera ditangani. Warga khawatir dampaknya akan semakin luas, termasuk risiko hilangnya mata pencaharian,” ungkapnya.
Hingga berita ini diturunkan, pihak perkebunan kelapa sawit belum dapat dihubungi. (Wir)
