PEKANBARU, MORALRIAU.COM– Ketua GP Ansor Riau, Purwaji, membenarkan pernyataan Ketua Umum GP Ansor Yaqut Cholil Qoumas tentang keberadaan kelompok radikal di Riau. Malah, Purwaji menegaskan bahwa kelompok radikal itu sedang mengkonsolidasikan dirinya di Riau.
Purwaji berasumsi aksi radikalisme yang terjadi di daerah, termasuk Riau, itu bukan cerita semata. Semua orang juga mengetahui kejadian yang menyerang Mapolda Riau tahun lalu, dan masyarakat kaget dengan kejadian itu.
“Kita harus akui aksi radikalisme yang terjadi di daerah, termasuk Riau itu bukan fiktif tapi nyata. Apalagi kejadian penangkapan terduga teroris di daerah pulau Jawa dan lainnya ada hubungan jaringan terorisme di Riau,” paparnya.
“Itu menunjukan bahwa hari ini kelompok-kelompok radikal itu sedang mengkonsolidasi dirinya di Riau,” tambahnya.
Karena alasan itulah, pihaknya perlu menyampaikan itu agar masyarakat, tokoh dan pemangku kebijakan sama-sama mewaspadai dan antisipasi tindakan radikal di Riau.
“Kita pasti tak mau anak kemanakan kita terseret pada pusaran radikalisme itu. Sehingga perlu kita ingatkan agar kita melakukan pencegahan,” tegasnya.
“Jadi ini bukan kapasitas tidak kapasitas, toh selama ini kita konsentrasi terhadap persoalan itu. Menurut kita Yaqut punya kapasitas bicara seperti itu,” sambungnya.
Ia menambahkan, apa yang disampaikan Yaqut Cholil Qoumas tidak ada tendensius apa-apa terhadap masyarakat Melayu Riau.
“Jadi tidak ada unsur menyerang atau menyudutkan. Apalagi ada yang mengatakan ini balas dendam karena acara GP Ansor ditolak,” kata Purwaji.
Karena itu, Purwaji mengatakan apa yang disampaikan Ketum GP Ansor adalah murni upaya GP Ansor mengantisipasi tindakan radikalisme dan terorisme di Indonesia.
“Kita ingin mengingatkan masyarakat, dan itu sudah kita sampaikan kepada Presiden jangan sampai agenda-agenda pemilu 2019 diboncengi oleh kelompok radikalisme,” ujarnya.
Ditanya soal data kelompok radikalisme yang diperoleh GP Ansor di Riau, Purwaji menyatakan kalau data dan bukti bahwa kelompok radikal itu ada semua.
“Saya kira data banyak, bisa di browsing di Google. Misalnya saja Imam Samudra sempat berada di Pekanbaru Riau dan penangkap terduga teroris lainnya juga banyak ditangkap di Riau,” tukasnya.
Sumber cakaplah

















Komentar