PEKANBARU, MORALRIAU.COM- Peternak mandiri kembali memperjuangkan harga pakan dan bibit yanh melonjak. Pasalnta untuk mendapatkan bibit ayam atau DOC (Day Old Chick) diperparah dengan kenaikan Harga Pakan yang melambung tinggi membuat peternak mandiri menjerit.
Salah satu faktornya karena melemahnya rupiah terhadap dolar menjadi salah satu pemicu kenaikan harga Pakan, karena sampai hari ini Pabrikan Pakan masih mengimpor jagung dan kedelai. Tetapi yang dirisaukan peternak mandiri juga persoalan bibit ternak yang dikeluhkan karena terbatas dan mahal.
Seperti yang dirasakan Peternak Unggas Mandiri Pekanbaru Musliadi. Menurutnya, perusahaan Integrasi yang memproduksi bibit ayam menerapkan aturan pembelian Bibit Ayam mestilah sepaket dengan pembelian pakan. Artinya Peternak Mandiri tidak akan bisa mendapat kan bibit kalau tidak sekalian membeli pakan.
Selain itu perusahaan Integrasi juga memiliki Peternak Plasma yang mereka bina sebagai peternak kemitraan mereka. Distribusi bibit mestinya mengacu kepada peraturan pemerintah dimana di amanat kan setidak nya 50 persen bibit di jual ke peternak mandiri di samping mereka budidayakan untuk internal mereka ataupun di kemitraan mereka.
“Kenaikan harga pakan yang dirasakan peternak melebihi dampak kenaikan dolar terhadap rupiah. Sehingga terjadilah keadaan saat ini. Dimana biaya produksi melebihi nilai jual daging ayam itu sendiri. Kondisi ini memberikan dampak kerugian yang sangat besar terhadap peternak kecil,” paparnya didampingi peternak lainnya Mujiono, Minggu (30/9/2018).
Untuk itu ia berharap Dinas Pedagangan bisa membuat acuan untuk patokan harga teratas dan harga terbawahnya sehingga pabrikan dan kalangan peternak bisa tetap bertahan dalam segala kondisi. Ini juga penting untuk mewujudkan Persaingan sehat antar pabrikan.
“Kami tentunya berharap stakholder terkait bisa memberikan solusi demi kelangsungan usaha peternakan rakyat untuk mewujudkan persaingan bisnis yang sehat. Pembinaan dan koordinasi oleh pihak terkait sangat di harapkan oleh peternak mandiri,” harapnya.
Sementara itu salah satu perusahaan yang memproduksi bibit dan pakan Pokphan Pekanbaru membenarkan kenaikan harga pakan tersebut. Menurut Marekting Pokphan Hendra kenaikan harga pakan disebabkan beberapa faktor teknis. Misalnya karena bahan baku naik.
“Harga memang fluktuatif. Untuk harga pakan ternak naik Rp100 per kilogram, untuk bibit turun dari Rp7200 ke Rp7000. Harga naik karena bahan baku naik, kacang kedelai naikc jagung langka. Sementar kita impor dari Amerika,” sambungnya. (*)
